PernitaHestin Untari, Jurnalis · Sabtu 16 Juni 2018 21:30 WIB. BLACKPINK. (Foto: YG Entertainment) SEOUL - Video klip DDU-DU DDU-DU milik BLACKPINK sukses ditonton lebih dari 27 kali dengan 2,4 juta like hanya dalam 24 jam setelah dirilis di YouTube pada 15 Juni 2018. Dengan capaian itu, DDU-DU DDU-DU tercatat sebagai video musik girl grup K Mengetahuihal itu, ia berkilah jika itu hanya bagian dari kreativitas yang seharunya tidak perlu dipolisikan. "Kreativitas itu tidak bisa di-judge atau dihakimi seperti itu," ujar Fadli, di gedung DPR, Jakarta, Selasa (25/9). Fadli mengatakan, hal seperti itu sudah sering dilakukan orang lain sebelumnya. Lebihbanyak lagi » 42 dari 100. Instrumentasi apik oleh uesto dan co. Ditambah lagi pantulan agar adrenalin Anda mengalir setiap hari, cuaca apa pun. 41 dari 100. Di tengah pertempurannya dengan Nas, Jay-Z membutuhkan momen magis. Kanye datang untuk menyelamatkannya di belakang lagu 5-sampling Jackson dari The Blueprint. 40 dari 100 Rutinitas"The Most Explosive" terdiri dari dua bagian—dengan jumlah total sekitar 45 menit dengan 11 lagu BTS dari berbagai era. Kamu bisa memilih dari opsi high dan low impact , dan kamu pun NurulJidan Ismail — Mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta “YouTube, YouTube, Youtube lebih dari TV BOOM! ” Begitulah penggalan lirik lagu GGS (Ganteng Ganteng Swag) yang dibawakan Young Lex, Reza Arap dan Youtuber lainnya. Meski sudah lama dibuat sekitar 5 tahun lalu, tetapi lirik Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd Hỗ Trợ Nợ Xấu. Jakarta - 6 tahun lalu, sekelompok YouTuber melantunkan pride terhadap platform mereka berkarya melalui sebuah lagu. Salah satu liriknya berbunyi, "YouTube, YouTube, YouTube lebih dari TV boom!". Hari ini, secara resmi, siaran pada platform-platform digital benar-benar melebihi kesaktian televisi konvensional berbasis analog, yang siarannya dialihkan menjadi siaran televisi ini sendiri, diatur oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Kominfo melalui Peraturan Menteri Kominfo Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penyiaran, termasuk soal wilayah dan jadwal penghentian. Penghentian siaran TV analog, bukanlah berarti pemberhentian siaran tv konvensional sepenuhnya sebagaimana yang sempat beredar abu-abu di masyarakat. Namun hal ini lebih diartikan sebagai suatu migrasi siaran, dari yang tadinya berjenis analog, menjadi digital. Jadi, masyarakat tetaplah bisa menyaksikan televisi, tetapi perlu mengonversinya menjadi digital melalui Set Top Box STB yang disambungkan ke antena konvensional. Atau mudahnya, para pemirsa juga bisa beralih menggunakan televisi kabel berlangganan untuk mendapat akses pada siaran televisi berbasis digital. Pemberhentian ini dilakukan melalui beberapa tahapan, yang dimulai pada 30 April 2022 pada 116 kabupaten/kota di 56 wilayah itu, Menteri Kominfo, Johnny G Plate menyebut, migrasi ini dilatarbelakangi oleh keunggulan siaran TV digital yang bersih, jernih, dan canggih. Sedangkan menurut Presiden Joko Widodo, migrasi ini merupakan transformasi teknologi, guna menata ulang penggunaan frekuensi yang terbatas dan untuk memberi ruang frekuensi yang cukup untuk internet cepat dan mendukung ekonomi kita berpindah?Perpindahan ini sebenarnya tidak terlalu menghebohkan dan merepotkan masyarakat. Karena selama ini, masyarakat memang tidak lagi bergantung sepenuhnya kepada siaran-siaran televisi konvensional, dan telah beralih menjadi pemirsa di platform digital seperti YouTube dan lain begitu, ketergantungan terhadap televisi konvensional berbasis analog nyatanya masih terjadi di banyak daerah, khususnya pada kalangan masyarakat menengah bawah. Dalam merespon hal ini, Kementerian Kominfo mengadakan program bantuan STB TV digital tahapnya yang pertama, akan dibagikan sejumlah unit STB ke seluruh Indonesia oleh lembaga penyiaran swasta. Sedangkan secara menyeluruh, total STB yang akan dibagikan ke masyarakat adalah sebanyak 6,7 juta unit mendapatkan STB gratis dari pemerintah, masyarakat hanya perlu mengakses Data Terpadu Kesejahteraan Sosial DTKS Kementerian Sosial dan memilih pemberian bantuan berupa pemberian STB gratis. Nantinya, calon penerima STB gratis akan mendapat undangan dari kelurahan/desa setempat, untuk mengambil STB gratis di Kantor Pos terdekat, lalu akan dibantu oleh petugas dari pihak ke-3, untuk instalasi dan registrasi STB di rumah.[GambasAudio CXO] RIA/DIR Latar Belakang Apa yang biasa kamu lakukan ketika gadget ada di tanganmu ? Kebanyakan orang akan memilih untuk membuka sosial media seperti Instagram, Facebook, hingga YouTube. Tentunya sederetan sosial media yang baru saja disebutkan tak asing bagi kita, terutama YouTube. Seperti yang kita tahu, YouTube adalah situs video sharing yang banyak digunakan untuk berbagi video. Sejarah Youtube Situs YouTube pertama kali berdiri pada 14 Februari 2005. YouTube berawal sebagai sebuah perusahaan teknologi rintisan yang didanai oleh investasi senilai 11,5 juta dollar dari Sequoia Capital antara November 2005 dan April 2006. YouTube didirikan oleh Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim, yang sebelumnya merupakan karyawan pertama PayPal. Steve Chen merupakan salah satu karyawan Facebook yang keluar untuk merintis YouTube. Apakah kalian tahu video yang pertama kali diunggah di YouTube? Ya, video dengan judul “Me at the zoo” adalah video pertama YouTube yang diunggah oleh Jawed Karim pada 23 April 2005 yang juga merupakan seorang pendiri YouTube. Pada Oktober 2010, Chad Hurley yang pernah belajar desain di Indiana University of Pennsylvania, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO YouTube. Meskipun begitu, ia menyatakan bahwa ia akan terus menjadi penasihat YouTube. Pada tahun 2006, tercatat lebih dari 65 ribu video diunggah setiap harinya dan situs ini menerima 100 juta kunjungan video per hari pada Juli 2006. Lalu. pada Oktober 2006, Google Inc. membeli Youtube senilai 1,65 miliar US dollar. Hingga saat ini, YouTube menjadi situs online Video provider paling dominan di Amerika Serikat atau bahkan dunia, dengan menguasai 43 persen pasar. Diperkirakan 20 jam durasi video di upload ke Youtube setiap menitnya dengan 6 miliar views setiap harinya. Keunggulan YouTube Salah satu keunggulan YouTube adalah komunitasnya yang sangat bersahabat. Kedekatan antara content creator dengan viewers membuat YouTube semakin berkembang. Dengan semakin berkembangnya YouTube, menimbulkan banyak permasalahan yang terjadi pada komunitas YouTube sendiri. Mulai dari muncul banyaknya perusahaan-perusahaan entertainment yang masuk YouTube sampai pada puncaknya drama pewdiepie versus T-Series tahun lalu. Masuknya T-Series sebagai perusahaan korporatif India mengindikasi bahwa orang tidak lagi nonton TV di TV, melainkan nonton TV di YouTube. Namun, dengan pindahnya orang yang nonton TV ke YouTube, apakah menandakan bahwa YouTube lebih dari TV ? Materi Lengkap Silakan baca juga beberapa artikel menarik kami tentang Data Menjawab, daftar lengkapnya adalah sebagai berikut. Tonton juga video pilihan dari kami berikut ini Jovial Da Lopez dengan lantang menyebut “Youtube lebih berbahaya dari TV.” Youtuber yang dikenal dengan Kak Jo ini merilis satu video diskusi dengan adiknya Dovi dalam kemasan drama di kanal Youtube SkinnyIndonesian24 pada Februari 2021 lalu. Kedua bersaudara ini sudah sejak lama dikenal sebagai influencer di platform video online, Youtube. Lalu, kenapa mereka sebut Youtube lebih berbahaya dari TV?“Youtube, Youtube lebih dari TV!” Sebelum membahas isi diskusi serius Jovi & Dovi soal kritik tentang Youtube, mari kita bernostalgia ke tahun 2016. Pada masa itu ada satu lagu hits yang trending di platform Youtube tentunya berjudul “GGS” singkatan dari “Ganteng-ganteng Swag”. Video ini dirilis oleh Young Lex di kanal Youtube jelas video musik ini satu bentuk anti mapan dari media televisi. Mereka melakukan glorifikasi hebatnya Youtube sebagai satu media baru yang lebih unggul. Dimulai dari judulnya yang memplesetkan serial TV sinetron populer pada masa itu, “Ganteng-ganteng Serigala” tayang di SCTV yang populer dengan singkatan “GGS”. Bahkan ada bagian dari lirik lagunya berbunyi, “Kita bukan Serigala, tapi boleh dicoba…” yang tentunya mengacu pada sinetron itu. Video musik ini bentuk kolaborasi dari para selebriti Youtube pada masa itu, Young Lex bersama dengan Jovi & Dovi SkinnyIndonesian24, Reza Oktovian atau lebih dikenal dengan Reza Arap, stand up comedian Kemal Palevi, dan penyanyi Dycal Siahaan. Pada video yang dirilis pada maret 2016 itu, Jovial Da Lopez dengan lantang menyanyikan, “Youtube, Youtube lebih dari TV!”Lima tahun kemudian, Jovial Da Lopez mempertanyakan kembali soal kebenaran bahwa Youtube lebih baik daripada TV. Bahkan Jovi menyebut Youtube lebih berbahaya dari TV. Untuk mengupas kenapa kritik buat Youtube ini muncul, mari kita lihat kembali bagaimana media televisi memperoleh terpaan kritik hingga media baru seperti Youtube tampak sangat Balik Kritik TV Kalau bicara tentang TV di tahun 80-an, maka bisa dibilang kesan yang muncul secara umum adalah membosankan. TVRI, satu-satunya stasiun televisi yang mengudara dan dikuasai oleh pemerintah. Memang bukan tidak ada program hiburan pada masa itu. Acara musik, film asing, komedi, program anak-anak mulai dari program belajar, kuis, film hingga acara hiburan, semua ditayangkan oleh TVRI. Namun tentunya acara-acara ini diselingi dengan siaran berita, magazine, feature, dan dokumenter yang isinya mengagungkan program-program pemerintah orde baru yang berkuasa pada masa itu. Lalu kebijakan pemerintah pun berubah. Muncul televisi swasta di era 90-an. Pilihan tontonan masyarakat Indonesia semakin beragam. Untuk menghidupi dirinya, stasiun TV swasta mengandalkan pendapatan dari iklan. Nah, di era 90-an ini lah mulai muncul kritik bahwa TV tidak mendidik. Dimulai pada era 90-an, industri televisi di Indonesia diwarnai persaingan komersial untuk merebut khalayak. Penanda keberhasilan tayangan bukan kualitas melainkan kuantitas. Seberapa banyak orang menonton menjadi kejaran bagi stasiun televisi. Indikator keberhasilan ini ditandai dengan angka “rating” berdasarkan survei yang dilakukan oleh lembaga penelitian “Nielsen”. Mengejar rating tinggi berarti berlomba meraih penonton sebanyak mungkin. Program dengan isi berkualitas seperti dokumenter mengenai penelitian ilmiah akan kalah bersaing dengan tayangan hiburan seperti sinetron dengan cerita menjual konflik keluarga dan percintaan. Sinetron pun mendominasi tayangan televisi di jam tayang utama sekitar pukul di mana semua anggota keluarga punya waktu buat nonton TV pun bermunculan di media cetak dan forum-forum diskusi ilmiah. Sinetron di televisi jadi sasaran karena dianggap tidak mendidik dan tidak berkualitas. Wacana ini mulai mengemuka pada akhir dekade 90-an. Namun persaingan industri tidak dapat dihindari. Tayangan di televisi untuk mengejar kepentingan pemirsa tidak berhenti pada sinetron. Pada awal dekade 2000-an, mulai muncul tayangan-tayangan mistis berbau terhadap industri televisi di Indonesia pada awal dekade 2000-an juga ditujukan kepada tayangan-tayangan berita kriminal. Stasiun televisi juga berlomba menayangkan program berita khusus aksi-aksi kriminalitas yang memancing banyak penonton. Sinetron, tayangan mistis, dan berita kriminal jadi topik diskusi bagaimana televisi di Indonesia mengejar “rating” untuk kepentingan industri semata sehingga mengorbankan kualitas dari masyarakat terhadap industri televisi di Indonesia berhasil melahirkan terciptanya lembaga negara baru yang mengatur penyelenggaraan siaran televisi. Komisi Penyiaran Indonesia KPI dibentuk pada tahun 2002 dan mulai bekerja pada tahun 2003. Dengan status independen sehingga tidak dipengaruhi oleh pemerintah, KPI mengeluarkan produk yang menjadi industri televisi di Indonesia yaitu Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran P3SPS mulai tahun 2004. Stasiun televisi yang enggan mematuhi produk ini dapat diberikan teguran oleh KPI hingga dikenai sanksi. Dengan adanya P3SPS dari KPI memang tidak serta-merta menyelesaikan masalah tayangan TV yang tidak mendidik serta persaingan industri yang membuat stasiun berorientasi pada kepentingan komersial hingga mengabaikan kualitas. Namun setidaknya ada satu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya industri televisi menyajikan tayangan kepada masyarakat. Melalui sistem ini juga muncul pengawasan terhadap stasiun TV yang dilakukan oleh kembali ke pandangan Jovi tentang Youtube yang lebih bahaya daripada tayangan TV. Dalam video ini, Jovi berdiskusi dengan adiknya Dovi tentang keputusan mereka untuk berhenti menjadi kreator konten di Youtube. Dengan cara kreatif dibantu beberapa ragam video fragmen, mereka menjelaskan bagaimana Youtube menjadi platform yang berbahaya. Pada akhir diskusi, Dovi pun memberikan kesimpulan, “penonton yang termakan video, kreator yang terpengaruh algoritma, brand yang hanya mementingkan profit dan Youtube yang memfasilitasi dan membiarkan ini semua terjadi.”Menonton video berjudul “Youtube Lebih dari TV” besutan SkinnyIndonesian24, tampak kesamaan bagaimana Youtube akhirnya terjebak dengan pola industri TV. Dipicu oleh kepentingan komersial, Youtube membuat para kreatornya memilih untuk mengabaikan kualitas untuk mengejar penonton. Lebih berbahaya lagi, platform media sosial ini bisa memicu polarisasi karena membiarkan penonton untuk mengkonsumsi konten yang mereka sukai tanpa memedulikan apa yang mereka perlukan. Jovi pun menambahkan, “dan yang lebih gila lagi, kita semua adalah pelaku dan korban!”Pandangan tentang Youtube lebih berbahaya daripada TV tampak relevan. Walaupun sama-sama terjebak dalam kepentingan komersial, setidaknya industri televisi di Indonesia sudah memiliki sistem yang mengatur pedoman konten serta pengawasan dari KPI sebagai lembaga negara independen untuk melindungi masyarakat. Sementara Youtube dan platform video serta media sosial lainnya di internet masih diserahkan kepada kepentingan pasar. Lalu, apakah kita perlu memberikan tekanan kepada negara untuk membentuk komisi pembuat pedoman buat Youtube dan platform lainnya seperti yang dilakukan para pemerhati untuk industri televisi sehingga melahirkan KPI? Sebagai bagian dari masyarakat, kita perlu ikut aktif menjawabnya. Komisi Penyiaran Indonesia pada tahun 2019 sempat menyampaikan wacana terkait peninjauan undang-undang penyiaran terkait perluasan pengawasan ke media baru seperti platform video online Netflix, Youtube, dan sebagainya. Namun rencana ini memperoleh respons beragam dari masyarakat. Beberapa ahli menilai perlunya pengawasan bagi media baru baik dengan memperluas fungsi KPI dari industri penyiaran radio dan TV hingga merambah ke media baru atau membentuk komisi baru yang menangani hal ini. Sementara sebagian masyarakat ikut menandatangani petisi di pada Agustus 2019 untuk menolak perluasan fungsi KPI ke media baru. Pada bulan Januari 2022, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Abdul Haris Almasyhari menyampaikan tentang revisi UU Penyiaran masuk ke dalam pembahasan prioritas tahun 2022. Ia menyebut bahwa media baru akan masuk ke dalam wacana yang akan dibahas dalam revisi Undang-undang Penyiaran. SUP Y'ALL?? Udah lama banget ya kan gue ga pernah nulis lagi disini. Setahun lebihhh, parah sih. Yak, sekarang gue udah kelas 3. Kelas 3 SD ya bang? Bodo amat dah, semerdeka lu pada. Sebenernya udah dari kapan gue ada niatan buat nulis di blog gitu loh, tapi yaa entah kenapa gue sama sekali gak dapet pencerahan buat nulis apa disini. Mau gimana lagi ya kan. Selain emang gak ada ide, di satu sisi gue juga lagi sibuk-sibuknya sama urusan sekolah belakangan ini. I've done this before, but it doesn't get easier. You know my name, not my story guys. Btw, gue nulis ini sambil dengerin album Life's Not out to Get You kepunyaan band pop punk asal Wales yaitu Neck Deep. Gapenting sih ya, gapapa deh hehe. Mungkin tulisan gue kali ini gak bakal terlalu panjang juga ya guys. Mau dibilang santai, tapi agak serius juga sih bahasan-nya. Tulisan ini dibuat berdasarkan kegelisahan gue sendiri terhadap fenomena YuCu..ber... Ehh maksudnya YouTubers atau para YouTube "content creator" yang makin kesini makin berserakan di dunia perYouTube-an. Khususnya di Indonesia. "YouTube YouTube YouTube lebih dari TV. Boom!". *suara nuklir meledak* Begitulah salah satu penggalan lirik dari lagu GGS GANTENG GANTENG SWAG yang dipopulerkan oleh Young Lex yang katanya rapper sekaligus pemerhati cabe-cabean di Indonesia. Who knows? No comment sih ya kalo ditanyain soal siapa sih Young Lex ini. Buat yang belum pernah denger lagunya, bisa dicek dulu ya di YouTube channel nya mas Alex. Cari aja keyword nya "ganteng ganteng swag" di kolom search YouTube, pasti langsung nongol kok paling atas. Bang, kenapa nggak lu share aja link nya disini? Gini ya. Pertama, gue gak ada niatan buat promosiin dia ya kan haha yakali promosi gratisan guys. Kedua, lagu ini mengandung lirik yang agak kurang cocok buat didengerin kalian-kalian yang masih di bawah umur. Jadi kalo gue kasih link nya disini, ntar yang tua-tua malah nyalahin gue. Woy, kalo mau share sesuatu disaring dulu kek..lirik isinya f*ck dan lain2 malah lo share disini..mikir dong ny*t. Gue gamau dikatain kayak gitu kan sob. Ngerti kan? Bukan maksud gue ngejelekin lagunya ya guys, karna kalo dilihat dari sudut pandang seni nya sih ya fine fine aja. Seni itu bebas. Cuma, balik lagi sih ke kalian sebagai pendengar yang menilai seberapa layak kah karya seni tersebut untuk dinikmati oleh kita semua. Cheers! Balik lagi soal YouTube lebih dari TV, apa pendapat kalian terhadap pernyataan berikut? Tulis di kolom komentar ya. Menurut gue pribadi sih, pernyataan ini nggak 100% bener dan belom bisa di iya-kan. Kenapa? Mari kita kaji lebih dalam lagi. Kita bahas yang deket-deket aja ya, YouTube Indonesia aja deh. Untuk saat ini terhitung dari tahun 2015 kemaren, Indonesia menjadi salah satu negara pengakses YouTube terbesar se-Asia Pasifik. Gokil gak sob? Yoi dong, sob puntut kan. Sop buntut itu bang. Jayus dikit gapapa lah hehe. Kenapa pengguna YouTube di Indonesia pada betah banget nongkrong di YouTube? Pastinya sih karna konten yang disajikan para content creator lokal kini makin banyak dan makin berkualitas. Tapi, gue belum bisa bilang kalo semua content creator di Indonesia sekarang makin berkualitas. Gue baru bisa bilang "sebagian" dari mereka. Faktanya, sebagian besar dari para YouTuber Indonesia sekarang lebih mementingkan quantity daripada quality. Tapi kok katanya sekarang viewers malah lebih sering lagi nongkrong di YouTube? Entahlah, mungkin karna pengaruh teknologi yang kini semakin berkembang kali ya. Jadi gak aneh lagi kalo tiap ada anak sekolahan, sekarang udah pada megang smartphone dan mereka bisa akses YouTube seenak jidat mereka. Sekali lagi, kita ngomongin soal YouTube Indonesia ya. Jadi jangan nanya gini lagi. Bang, emang PewDiePie, Markiplier, sama National Geographic gak berkualitas? *elus dada* Gini deh, gue nggak bilang kalo YouTubers Indonesia itu gak berkualitas atau gak mendidik. Gak mendidik mungkin ada sih ya haha. Tapi disini gue nggak bilang kalo mereka semua itu jelek. Mereka yang punya channel toh, mereka sendiri juga yang berhak mau bikin konten di channel YouTube mereka kayak gimana. Kalo dilihat dari sudut pandang seorang viewers YouTube maupun TV, gue rasa sih YouTube belom layak dibilang lebih dari TV. Mungkin emang betul kalo tayangan-tayangan di TV sekarang banyak yang kurang mendidik, contohnya ya kayak sinetron "Ganteng Ganteng Sapigila", atau kalo kata Alitt Susanto "Tukang Bubur Masuk ISIS". Jangan seneng dulu. YouTube Indonesia juga punya banyak konten-konten yang bisa dibilang kurang mendidik bahkan bisa dibilang "negatif". Ada yang doyan ngomong anj*** lah, bang***, ngen*** lah. Ada juga yang sampe dikecam KPAI lah karna konten yang disajikan terlalu vulgar. Ada yang doyan bikin skandal di YouTube lah. Ada yang salah beli lah. Dan masih banyak lagi. Gue nggak mau bilang kalo mereka itu salah, toh mau gimana lagi. Mungkin itu caranya mereka untuk berkreasi di YouTube. Yang pengen gue tekankan disini ya cuma satu. YouTube belom layak dibilang lebih dari TV. Karna pada kenyataannya, masih banyak konten di YouTube yang masih sama-sama nggak "bener"nya kayak tayangan di TV. Nggak "bener" dalam konteks yang beda ya. Dan gue cuma mau titip pesan buat kalian wahai para YouTuber Indonesia atau apalah itu yang selalu kalian sebut diri kalian sebagai apa. Mau bikin video bok**, mau ngomong bang*** di YouTube juga terserah lu, tapi tolong lah plis agak mikir dikit.. Minimal nyalain fitur "age-restriction" kek. Plis lah, kalian kan pasti udah pada gede, udah dewasa. Yakali anak umur 10 tahun upload video vulgar kan. Kalo kalian mau upload konten yang "negatif", ya seenggaknya mikir deh kalo yang nonton video kalian masih di bawah umur gimana? Apakah kalian mau tanggung jawab kalo ntar banyak bocah yang ngomong f-word dengan lantang di hadapan orang tua mereka? Plis banget ini sih. Dan lagi, gue cuma mau menyampaikan keresahan gue yang belakangan ini terngiang terus di pikiran gue. So, sorry kalo ada content creator yang ngerasa kesentil. Tapi kalo kesentil gapapa deh, ini kan demi kebaikan diri lu juga sob. Introspeksi diri. Kalo kalian para content creator pengen dapet respect dari kita semua, kalian juga harus bisa bertanggung jawab atas apa yang kalian ciptakan. Oke deh, segitu aja kali ya. Jadi kalo ntar masih aja ada bocah-bocah yang bilang "YouTube lebih dari TV, BOOM", tampol aja langsung pake sendal Swallow punya lu pada.. Ehh salah, maksudnya kasih liat aja langsung artikel gue yang satu ini ya. Bye. DON'T DO DRUGS! youtube lebih dari tv? DISCLAIMER GUE BUKAN HATER MEREKA. Belakangan banyak banget temen pesbuk yang bikin status, "Youtube Youtube Youtube lebih dari TV, BOOM!" Selidik punye selidik, ternyate ntu lagu dari para Youtuber elit di link ini. Dari segi musik, gue acungin jempol. Editing juge bagus. Tapi... I dunno, I really don't like with the lyric. Udeh gitu ada bagian semacem 'posisi nganu' yang... uoooh... gue baru liat pidionye pas bulan puasa dan pahala gue pun berkurang gegara visual tak senonoh tersebut. ada yang mau naek haji nih Tapi... um... jujur aje yak, gue sebenernye jengah melihat mereka. Gue kagak suka nongton channel mereka, namun penampakan mereka sering banget terlintas di newsfeed socmed. Gue agak kurang suka ame Youtuber mereka yang ngomongnye kasar di depan kamera dan pidio mereka suka ada yang share di pesbuk, huh. Bahkan salah satu dari mereka pernah melakukan pelecehan seksual secara verbal itu loh, si mz seten ap ntuh. I know, mereka benci pencitraan, I do, tapi semua orang butuh pencitraan. Pencitraan penting, asal kagak berlebihan. Semua orang melakukan pencitraan, sadar kagak sadar. Tapi dengan selalu berkata kasar seenaknye, berkata kasar yang bukan pade tempatnye, gue rasa ntu kagak baek. Mereka, sekumpulan para Youtuber elit, berpendapat bahwa TV kagak mendidik, pejabat negara pade kagak bener. Padahal mereka sendiri kagak mencerminkan orang bener-bener amat menurut gue, soalnye mereka pamer kehedonan mulu. Tapi tanpa sadar diri, mereka bikin konten yang juge kagak mendidik. Lalu mereka memperagakan beberape gaya yang kurang sopan. Mereka pikir keren, tapi, kalo gaya tersebut diperagakan oleh anak mereka nanti, ape mereka akan tetep menganggap ntu keren? biasa aje mz =..= YOUTUBE LEBIH DARI TV? Lebih ape? Bagus? Bagus atau kagaknye suatu media yang 'dikonsumsi' tergantung pilihan dari individu masing-masing. Youtube dan TV sama-sama media audio visual, ada plus minus, konten tergantung dari setiap channel. Keduanye bersinergi yang lagi ngehits di TV bakal ada di Youtube, begitu pula sebaliknye. Kagak ada yang lebih bagus, kagak ada yang lebih jelek. Apapun medianye, yang dibutuhkan adalah pilihan dan kebijakannye terutama buat ortu, harus bijak ngasi gadget buat anak, jangan sampe anaknye pada mabok konten dewasa dari Youtuber gak berbobot. Btw, penonton Youtube banyak bocahnya sekarang. Yang mau jadi Youtubers, hati-hati dalam membuat konten. Kalo kontennya dewasa, jangan lupa disetting. YOUTUBE LEBIH DARI TV? Lebih jorok? IYE. Bahkan via Youtube, gue masih bisa nemuin beberape pelem bok*p, semi bok*p, dll. Bukan kagak mungkin, kalo suatu hari nanti Pemerintah akan bikin lembaga penyiaran khusus untuk digital. Gue sih ngedukung, asal kagak berlebihan aje, misalnye ada si tupai temennye Spongebob pake bikini terus diburemin =..= ye ngapain. Btw gue kagak mau nulis panjang lebar karena masih ada tulisan deadline untuk klien tercinta, akhir kata coba baca tulisan bijak dari Mas Alit di di sini. Jadi menurut kalian, youtube lebih dari tv? Enakan Youtube atau ngeblog, hayo?

lagu youtube youtube lebih dari tv boom